AD-DHIYA'

Tuhan, Jadikanlah Aku Cahaya!

Telah Merdeka



Hari-hari terus bergulir. Usai paper terakhir, aku melonjak syukur. Tak terperi rasanya gembira. Setelah bertungkus lumus mengharungi hari-hari. Tiga tahun tidak jauh beza dengan tiga hari.

Rasanya baru kemarin aku tiba di terminal penerbangan tanpa seorang teman, menyesuaikan perkataan bahasa Melayu dengan makcik penjual nasi minyak yang berbicara loghat Terengganu, tertegun sendiri antara percaya dan tidak bahwa aku berada nun jauh di sini. Dan sedar-sedar kini, aku telah menyelesaikan pelajaranku. Aku tertunduk syukur. Telah kulalui begitu banyak kejadian yang menduga. Peristiwa yang tidak pernah terbayangkan.

Di hadapan terminal penerbangan aku tertegun sendiri membayangkan apa yang pernah ku lalui. Kembali aku mengenang titik mula perjalanan hidupku. Ketika ayah merasa berat untuk berterus-terang dahulu. Aku mafhum benar kesan raut wajah ayah yang tak dapat disembunyikan itu, bahwa dia tidak punya wang untuk menghantarku melanjutkan pelajaran. Jika tidak kerna Tuhan mengirimkan manusia-manusia penyayang seumpama Kamai, Farah dan Asmar, barangkali ketika ini aku sedang melihat diriku terperuk di dalam pejabat yang dipenuhi penghawa dingin, itu seandainya nasibku baik. Jika tidak, aku mungkin terlantar di kilang usang nan berdebu atau sengaja menjemurkan diri di bawah terik mentari demi menghitung kayu-kayu balak sebesar menara Kuala Lumpur.

Tidak hanya itu. Aku pernah dicuba dengan ujian kesakitan. Sehingga aku terlantar berbulan-bulan di rumah sakit dan harus dihantar pulang ke kampung halaman. Itulah ujian paling besar yang melanda hidupku, sampai-sampai hampir membunuh jasadku sekaligus semua impian murniku. Tubuhku yang lemah tak mampu berbuat apa. Serupa mayat hidup bernyawa. Waktu aku merasa duniaku pucat hitam, rasa putus asa untuk hidup, bayang-bayangan kematian, ketika aku sudah tidak merasa apa-apa dengan hidup. Aku mati sebelum mati.

Namun Tuhan sayangkan aku. Tuhan telah memegang mimpi-mimpiku. Kini di tepi lautan nan terbentang luas, bersama burung-burung yang berterbangan bebas, menjadi saksi, aku telah merdeka!


Dhiya’
Kuala Terengganu
03 Sha’ban 1433H

Malam Sentimental



Malam kelam, langit pucat. Di atas meja, aku menjajar carik-carik kertas bercoretan tangan. Ku perhatikan. Berlama-lama aku menekurinya. Hingga aku tak tahu harus mengawalinya dengan membaca tulisan yang mana.  Namun, aku tahu, aku tahu persis, bahwa ada sesuatu pada coretan-coretan sembap itu. Ah, aku penasaran.

Seandainya jika tulisan-tulisan itu dideklamasikan, pasti bertambah seru. Mungkin akan menjadi semacam ratib buat membuka selera mengisi malam-malam nan sepi. Maka bagiku, kertas-kertas kumal ini begitu terhormat. Nanti setelah aku usai membacanya, akan aku ceritakan kepada kawan seperti apa perasaanku.

Kertas-kerta carik itu berisi tulisan dari teman-teman sekuliahku. Ceritanya begini. Kami seramai tiga pulu lapan orang antara manusia pilihan Allah yang sedang mengikuti pengajian akhir Sarjana Muda Usuluddin Dengan Kaunseling, sejenis jurusan yang belum pernah wujud sebelum ini di mana-mana universiti, hatta di Harvard University sekalipun. Hebat bukan! Maaf, aku sendiri tidak pasti siapa orangnya yang begitu berani menjodohkan dua bidang ini. Hmmm!

Setelah melalui lima semester yang begitu polemik, kami kini berada diakhir fasa pengajian. Antara subjek yang wajib kami ikuti pada semester penghabisan ini dinamai Kaunseling Kelompok. Bunda Hafiah adalah tenaga pendidiknya.

Sekali lagi maaf, aku tidak berkenan menceritakan plot-plot disepanjang kelompok kami berlangsung beberapa bulan. Apa yang aku rasai? Apa yang aku pelajari? Apa yang aku perolehi? Kebaikan-kebaikannya? Aku hanya berani syorkan agar kawan sudi membaca buku I.D Yalom, judulnya “The Theory and Practice of Group Psychotherapy” meski aku belum pernah menelaahnya.

Sehingga berlalu beberapa sesi kelompok lalu tiba pada sesi penutup, Bunda Hafiah meminta kami menulis kata-kata berupa doa dan nasihat khas buat teman-teman sekuliah.

“Pada keping kertas, tulislah doa untuk kawan-kawan dan masukkan dalam sampul...” kurang lebih begitu kata Bunda Hafiah jika dibahasa bakukan.

Di atas sekeping kertas putih yang dikerat hingga hanya selebar kertas resit mesin bank atm, setiap dari kami, menukilkan kata-kata azimat. Dengan tulus ikhlas dan penuh rasa cinta lalu memasukkan ke dalam sampul yang dipunyai oleh setiap seorang dari kami. Dan dari situlah asal muasal yang membawa kepada kejadian malam ini.

Malam pun berlalu hanya untuk melahu carik-carik kertas dan bersentimen. Mataku tak mahu beralih dari lembaran-lembaran kopak itu kerna ternyata ayat-ayat yang dicoret mengandung daya tarik yang maha sentimental.

Maka sepanjang malam, aku bergelimang dengan hal-hal mengharukan, menyentuhkan dan rasa indah kerna kata-kata yang mengujakan. Aku senang dan bahagia. Terima kasih kawan. Semoga Tuhan selalu merahmati kalian.

Zaid,
Semoga cepat sembuh dan diberikan kesihatan yang baik.
Semoga segera bertemu jodoh yang baik hati.

Doanya ya!


Dhiya’
Gong Badak
17 Rejab 1433H