AD-DHIYA'

Tuhan, Jadikanlah Aku Cahaya!

Itulah Nabiku [1]

 "Pohon pun menangis ditinggalkanmu,
Alangkah aku..."
-Dhiya'-
 
Semua hal yang kuketahui tentang Nabiku adalah istimewa. Sangat istimewa. Ada cerita yang masih kuingat tentangnnya. Meski agak kabur, hal itu kuingat. Yaitu sewaktu Nabiku diheret dan diusir keluar dari kota Thaif dengan kasar.

“Keluarlah engkau dari negeri kami!”

Kuingat cerita itu, orang-orang berhimpun ikut serta menghalaunya sambil mencela dengan kata-kata kesat dan kuingat anak-anak muda nakal membaling batu ke arah tubuhnya. Sehingga luka tubuh dan kepalanya. Kakinya dilimpahi darah memenuhi terompahnya.

Tiba-tiba Zaid yang ikut serta bersama, menjerit-jerit. Melihatkan apa yang terjadi, sungguh tidak tega melihat sahaja Nabi yang dicintai dihina, diperlakukan sedemikian rupa. Tak pantas sungguh. Ia menjerit lagi, langsung meluruh ke arahnya, lalu mendakap tubuh baginda, berusaha menahan dan melindunginya dari dijamah lontaran batu-batu. Tak dihiraukan keadaan diri, asalkan Nabi tidak tersakitkan. Mereka terus berlalu meninggalkan kawasan itu sehinggalah berhenti disuatu tempat. Dalam keadaan dibasahi darah dan rasa sedih yang mencengkam, Nabi mengadu kepada Allah;

“Wahai Tuhanku, Kepada-Mu sahajalah tempatku mengadu kelemahan tenagaku, kurang helahku dan bertapa kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah. Dan Engkaulah Tuhanku, kepada siapakah akan Kau serahkan diriku? Adakah kepada mereka yang jauh, yang membenciku atau kepada musuh yang Kau berikan kuasa ke atasku? Seandainya Engkau tidak murka kepadaku, maka tidak akan kupedulikan, tetapi kemaafan dan kurniaan-Mu lebih luas untukku...”

Allah mengetahui apa yang terjadi ke atas Nabiku. Malaikat Jibril datang atas perintah Tuhan, membawa khabar dan utusan bahwa Malaikat penjaga gunung siap diberi tugasan. Seandai diizinkan, mereka siap menghempapkan bukit ke atas orang-orang yang telah berbuat kejahatan kepadanya.

Kuingat lagi, bahkan sehingga kini takkan pernah kulupa kata-kata Nabi;

“Bahkan, apa yang aku mahu dan harapkan biar Tuhan melahirkan dari sulbi mereka suatu golongan yang menyembah Allah serta tidak mensyirikkan-Nya.”

Nah kawan, itulah Nabiku. Istimewa bukan? Tak kasar, sabar dan sangat mengasihi. Tak membalas kejahatan dengan kejahatan malah sudi memaafkan. Selalu begitu. Selalu menyayangi dan memaafkan.


Dhiya’
Tawau
03 Dzul Qa’ida 1433H

0 ulasan: